Tahun pertama Adytya Pujiandi Tarigan menginjakkan kaki di Kabupaten Labuhanbatu Utara, ia langsung dihadapkan pada realitas yang tidak mudah. Keterbatasan jumlah Penyuluh Agama Katolik di lingkungan Kementerian Agama setempat menjadi tantangan nyata yang harus segera dihadapi. Kondisi tersebut menyadarkannya akan satu hal penting: kehadirannya bukan sekadar untuk bekerja atau menjalankan rutinitas, melainkan untuk membuka kembali jalan penyuluhan yang sempat terhenti dan terbengkalai. Di tanah yang masih asing baginya, Adytya memulai langkah pengabdian dengan harapan yang besar, meski arah yang harus ditempuh belum sepenuhnya terlihat.

Pada awal perjalanan, berbagai kekhawatiran dan keraguan terus berkecamuk dalam benaknya. Pertanyaan seperti, “Harus mulai dari mana?”, “Apa yang harus dilakukan?”, “Siapa yang harus ditemui?”, hingga “Apakah penyuluhan ini akan berhasil?” silih berganti muncul. Ketiadaan peta data maupun dokumen dari penyuluh terdahulu sempat membuatnya merasa berjalan tanpa arah, ibarat sebuah kapal yang berlayar di tengah lautan luas tanpa nakhoda. Namun, dari kegamangan itu lahir sebuah titik balik. Menyadari bahwa ia belum sepenuhnya memahami medan dan karakter masyarakat setempat, Adytya memilih untuk merendahkan hati dan belajar dari awal. Ia memutuskan mengikuti jejak pelayanan yang telah lebih dahulu tumbuh di wilayah tersebut, bukan untuk terus bergantung, melainkan sebagai jalan untuk membaca arah serta memahami kebutuhan masyarakat.
Langkah awalnya dimulai dengan mendampingi Penyuluh Agama Kristen dalam kegiatan pelayanan kunjungan ke rumah sakit. Dari pengalaman langsung di lapangan, perlahan Adytya mulai menemukan kompas dan ritme pelayanannya sendiri. Ia kemudian bergerak secara mandiri dengan menyambangi paroki, mengunjungi sekolah-sekolah, serta membangun komunikasi dengan para tokoh umat Katolik setempat. Seiring waktu, pemahamannya terhadap kondisi wilayah semakin berkembang. Dari sana, ia mulai melangkah dengan lebih percaya diri dan memahami arah yang harus ditempuh dalam menjalankan tugas penyuluhan.
Namun, membangun kelompok binaan baru tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Adytya harus berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dan tidak jarang perjalanan tersebut berujung pada penolakan atau rencana yang belum dapat terlaksana. Saat itu, masih banyak umat yang belum memahami secara utuh peran dan fungsi seorang penyuluh agama. Bagi Adytya, tantangan tersebut justru menjadi ruang belajar bahwa pelayanan yang bermakna harus diawali dengan membangun kepercayaan. Ia memilih untuk tidak menyerah dan tetap konsisten hadir dalam berbagai kegiatan umat. Perlahan, kehadirannya mulai dikenal, diterima, dan mendapat tempat di tengah masyarakat.
Tantangan terbesar yang dihadapinya bukan hanya persoalan jarak geografis maupun keterbatasan sarana transportasi. Lebih dari itu, tantangan utamanya adalah menumbuhkan kesadaran umat akan pentingnya penyuluhan agama sebagai bagian dari proses pertumbuhan dan penguatan iman. Berangkat dari evaluasi tersebut, Adytya mulai menginisiasi berbagai program sederhana yang dijalankan secara konsisten, seperti pendampingan keluarga, pembinaan anak dan remaja, serta kegiatan berbagi dan pendalaman iman secara rutin. Ia juga membangun sinergi dan komunikasi dengan pihak paroki serta pemerintah daerah agar pelayanan dapat berjalan lebih terarah dan terkoordinasi. Dari kelompok-kelompok kecil yang pada awalnya hanya beranggotakan beberapa orang, perlahan tumbuh wilayah binaan yang semakin terstruktur.

Di bawah teriknya matahari Sumatra dan di antara hamparan perkebunan sawit yang membentang luas, Adytya terus menempuh berbagai rute perjalanan untuk menjangkau umat. Medan yang melelahkan dan keterbatasan akses tidak menghentikan langkahnya. Di balik peluh dan rasa lelah, tumbuh kesadaran iman yang semakin kuat bahwa perjalanan tersebut bukan lagi sekadar pelaksanaan tugas birokrasi. Baginya, setiap perjalanan adalah jawaban atas panggilan hati untuk menghadirkan pelayanan serta mewartakan kabar sukacita kepada umat Katolik di Labuhanbatu Utara.
Menjadi seorang perintis di tempat baru memang menuntut pengorbanan, baik secara fisik maupun batin. Namun, justru di tengah keterbatasan itulah nilai sejati sebuah perjuangan menemukan maknanya. Adytya meyakini bahwa ketika setiap langkah dijalankan dengan niat yang tulus, kesungguhan, dan kerja keras, Tuhan akan membuka jalan serta menghadirkan kemudahan pada waktunya. Dari bumi Labuhanbatu Utara, kisah pengabdiannya mengajarkan bahwa pelayanan sejati bukan tentang fasilitas yang serba lengkap, melainkan tentang hati yang selalu siap hadir, setia melangkah, dan berani merintis jalan bagi sesama.

